Petanibawang merah Tugu Lor 2019/2020

Bertani Bawang Merah Kadang Asik kadang Bikin Panik

Tugu Lor, 05 Januari 2020
#PetanibawangmerahDemak sukses# 

Pada musim panen Bawang merah bulan Desember tahun 2019 di Demak umumnya dan khusunya di desa Tugu Lor terasa Asik dan Panik, itu di sebabkan musim tanan yang mundur biasanya bulan September sudah mulai tanam tapi pada tahun ini musim tanamnya pada bulan Nopember, sehingga musim panen bebarengan dengan datangnya musim hujan, dan musimkemarau yang sangat panjang sehingga  pasokan Air irigasi dari Kedung Ombo mengalami penyusutan dan tidak bisa menggelontorkan air untuk petani.
Para petani yang menanamlebihawal menikmati harga bawang merah yang sempat melambung tinggi kurang lebih 10 hari. Harga bawang merah super di Pasar Sayur Semarang sempat menyentuh Rp 30.000 per kilogram. Salah satu petani bawang merah di Tugu lor, Kabupaten Demak, Riyadho mengatakan, banyak petani bawang yang telah menjual bawang merah ke pedagang saat bawang merah baru berusia  40 hari. “Kebanyakan petani terima DP dulu. Biasanya Rp 5.000.000 sampai Rp 20 juta, bahkan ada penebas yang membelidengan uang kes (Lunas), dan ini yang membuat asik ketika dipanen mau bawang naik atau turun dak panikkarena uang sudah dikantongi lebih dulu. 
Setelah melewati 10 hari masuk di tanggal 25 Desember sampai awal tahun 2020 petanimengalamiPanik karena bawang merah yang sudah di beri DP ada yang di potong (awalnya di beli 75 juta di potong 15 juta menjadi 50juta denganlahan 1/2 bahu)  Bahkan, saat harga bawang merah anjlok menjadi Rp 13.000 per kilogram, petani juga dirugikan. Riyadho mengaku terpaksa memilih mengembalikan uang paner yang telah diterima dari pedagang sebesar Rp 2 juta karena pedagang memotong pembayaran Rp 10 juta dengan alasan harga bawang merah di pasaran turun drastis. “Mau saya kembalikan uangnya, masih menunggu ada pedagang lain yang mau membeli bawang saya,” kata dia. Sementara itu, petani lainnya,Umar, yang biasa menyuplai bawang merah ke sejumlah pasar di Semarang dan Jakarta, mengaku, para pedagang yang sudah telanjur membeli bawang merah milik masyarakat memilih memanen lebih awal agar tidak merugi terlalu banyak. “Hari ini harga bawang merah turun menjadi Rp 12.000 dari harga Rp 13.000 kemarin. Makanya, kami panen lebih awal agar ruginya tidak banyak. Kalau rugi ya rugi, namanya berdagang,” kata Slamet. Ia mengatakan, di Pasar Sayur Semarang, harga bawang merah super sempat mencapai Rp 27.000 hingga Rp 30.000 turun menjadi Rp 18.000. Bawang merah biasa harganya hanya Rp 14.000. "Bawang merah paling bagus sekarang Rp 20.000, kalau biasa Rp 15.000 sekilo. Turun karena pasokan mulai banyak, petani lokal sini mulai panen,” ujar dia. Meski harga bawang merah di pasaran mulai turun, tidak demikian dengan harga bibit bawang merah siap tanam. Menurut para petani, harga bibit bawang merah siap panen justru naik meski harga bawang merah hasil panen petani turun. Pekan lalu, harga bibit Rp 24.000, saat ini naik menjadi Rp 26.000. Kenaikan harga bibit bawang merah siap tanam tersebut diduga karena petani kembali memilih menanam bawang merah di lahan mereka pasca panen karena curah hujan yang tidak begitu tinggi beberapa waktu terakhir. Petani memilih menanam bawang merah dibandingkan padi. Dengan tingginya harga bibit dan adanya sistem ijon, petani bawang merah di Kabupaten Demak belum bisa menikmati harga bawang merah yang tinggi. Petani bawang, Jasipan, berharap, pemerintah membantu petani bawang merah untuk mensetabilkanharga Bawang Merah ditingkat Petani agar tidakmerugi dan mendapatkan bibit bawang merah siap tanam yang murah dan berkualitas. “Tingginya biaya menanam bawang merah dan mahalnya bibit membuat petani memilih berutang kepada tengkulak,” kata Jasipan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani bawang merah desa tugu lor

MIN 4 Demak (RAT Koperasi Min Kedungwaru lor ke 10)